TANJUNG PRIOK BERDARAH

Tanggal 14 april tepatnya hari rabu suasana di koja  tanjung priok jakarta utara telah terjadi bentrokan antar warga dengan aparat satpol PP. Kejadian itu bermula dari rencana penggusuran tanah di sekitar makam mbah priok oleh pemerintah kota stempat. Warga yang tidak terima atas keputusan tersebut sontak membuat mereka marah, mereka menganggap keputusan yang di ambil oleh pemerintah kota berdasarakan  keputusan sepihak. Warga juga menganggap bahwa tanah yang akan di gusur itu merupakan area pemakaman mbah priok yang nota bene adalah tokoh yang pada abad 18 berjasa menyebarkan agama islam di di kota tersebut.

Kejadian tanjung priok memunculkan banyak sekali kontroversi dari berbagai pihak dan sudut pandang yang berbeda-beda dari masyarakat. Sudut pandang positif dan negatif, ada yang pro, ada yang juga yang kontra. Lalu banyak pertanyaan yang muncul dari benak kita. Apa dan mengapa hal ini bisa terjadi ? Masyarakat adalah manusia yang menganggap dirinya orang-orang yang harus di bela dan berkuasa atas apa yang ada di tengah-tenga negeri ini. Pemerintah adalah orang-orang yang menganggap dirinya memerintah dan berkuasa atas pemerintahan, sedangkan aparat hukum adalah orang-orang yang menganggap dirinya mengerti hukum dan berkuasa atas hukum.

Lalu siapa yang salah dan di mana letak kesalahannya? Mari kita pandang dari sudut pandang yang berbeda-beda. Masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang hidup teratur di bawah hukum dan pemerintahan di negara Indonesia. Sudahkah kita hidup sebagai masyarakat yang  teratur dan dan mau di atur? Pada saat peraturan di buat, masyarakat sangat sulit untuk mematuhi, saat di lakukan teguran secara langsung dan halus, maka masyarakat menganggap itu sebagai teguran yang biasa-biasa saja dan tidak perlu di patuhi.

Pemerintah Indonesia adalah orang-orang yang menjadi wakil rakyat untuk melakukan pengaturan dan pemberdayaandi tengah-tengah negara Indonesia. Tapi apakah pemerintah sudah menjadi pemerintah yang adil, tanggap dan teratur ? Ternyata tidak, pemerintah tidak memiliki manajemen yang baik di tengah-tengah pemerintahannya. Negara ini sudah terlanjur jatuh dan bobrok terlalu dalam, sudah terlanjur berkarat karena penyakit KKN dan mementingkan diri sendiri daripada kepentingan rakyat.

Aparat hukum, mereka berpendapat semau saya dan sesuka saya, saya yang tahu hukum, dan anda tidak tahu hukum. Pantaskah aparat hukum berkata seperti itu ? Masayarakat tidak akan peduli hukum  jika penegak hukum sendiri sudah busuk dari dalam, jangan menegakan hukum dengan meninggalkan jejak kotor pada hukum yang pada dasarnya sudah bersih. Banyak penegak hukum yang menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, sogok menyogok bagi mereka yang memiliki banyak uang agak terbebas dari jeratan hukum. Sungguh sangat miris jika melihat penegak hukum seperti itu.

Akhirnya kejadian berdarah  tanjung priok terjadi juga, siapa yang salah? Pada dasaranya kita jangan menghakimi siapa-siapa yang bersalah, tetapi kita sebagai warga masyarakat harus bisa menjaga amarah terhadap sikap aparat penegak hukum, begitu juga aparat penegak hukum jangan seenaknya aja maen gusur tanpa ada musyawarah dulu sama warga. Masyarakat kita sudah sangat terlalu anti terhadap satpol PP yang selama ini di anggap sewenang-wenang, begitu juga satpol PP beranggapan bahawa masyarakat kita susah di atur dan di kondisikan, mereka juga menganggap bahwa tindakan penggusuran itu atas dasar perintah pemerintah dan pihak pengadilan. Di sini kita harus bisa menyikapi dengan bijak, mari kita bijak dalam menilai, mari kita bijak dalam mengambil keputusan, mari kita bijak dalam menggunakan emosi dan kata-kata, mari kita bijak dalam bertindak.

Bijaklah  sebagai masyarakat dalam bertindak, berpikir dan berbuat. Bijaklah sebagai pemerintah yang membuat peraturan, turunlah ke masyarakat dan bicara dari hati ke hati, jangan hanya bisa duduk di kursi empuk anda. Bijaklah sebagai pelaksana hukum dalam mengambil keputusan dan memutuskan, jangan melihat kepada mereka yang punya uang setumpuk dan berpaling dari mereka rakyat kecil. Emosi Cuma akan di tunggangi oleh mereka-mereka yang punya kepentingan demi mendapatkan kemauannya, sehingga emosi akan merusak diri dan milik kita sendiri. Atas kejadian ini rakyat lah yang jadi korban, banyak anak kecil yang tidak berdosa yang jadi korban. Semoga kejadian kemarin merupakan sebuah cerminan bagi para penguasa Negeri ini dan bagi para aparat hukum supaya mereka lebih berintropeksi diri dalam bertindak dan membuat keputusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s